Cara Budidaya Belut di Kolam, Terpal, Fibber, Drum Yang Menguntungkan

Cara Budidaya Belut - Belut merupakan ikan unik yang bertubuh bulat memanjang seperti ular, berbeda dengan Sidat (Anguilla SP) meskipun memiliki tubuh yang sama-sama bulat dan memanjang. Belut memiliki potensi yang cukup baik untuk dibididayakan, hal ini yang membuat belut banyak diminati masyarakat untuk dibudidayakan. Selain itu, Belut bermanfaat untuk kesehatan tubuh kita.

Cara Budidaya Belut

Di Indonesia belut yang banyak dibudidayakan adalah jenis belut sawah (Monopterus albus)dan jenis belut rawa(Synbranchus bengalensis). Kedua belut ini memiliki postur tubuh yang berbeda, belut sawah dikenal memiliki tubuh yang relative lebih gemuk dan pendek sedangkan belut rawa memiliki postur tubuh lebih panjang dan ramping.

Belut memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, sehingga banyak digemari oleh masyarakat. Produksi belut Indonesia banyak di ekspor kenegara lain seperti Japan, Hongkong, Cina, dan beberapa Negara lainnya. Hal ini yang menjadi titik peluang untuk menjadikan belut sebagai salah satu opsi pilihan usaha yang cukup menjanjikan.

Terkait dengan peluang bisnis budidaya belut, maka Bina Budidaya akan memaparkan Cara Instan Budidaya Belut. Peluang bisnis terkait dengan belut dibagi dalam 2 segmen utama diantaranya peluang bisnis belut yang berkonsentrasi pada pembibitan maupun peluang bisnis yang berkonsentrasi pada pembesaran. Terkait dengan 2 segmen ini, sahabat bisa mengkolaborasikan menjadi pengusaha bisnis budidaya belut yang berkonsentrasi pada pembibitan maupun pembesaran, hal ini akan menjadi peluang yang positif dan menjanjikan. Dipembahasan kali ini Bina Budidaya akan membahas persoalan terkait dengan pembesaran belut. Berikut pemaparannya:

PERSIAPAN KOLAM BELUT

Belut merupakan ikan yang hidup di air yang berlumpur, konsentrasi perbandingannya bisa mencapai 2:1 karena belut bisa bernapas diudara. Jika perbandingan air dan lumpur tidak sesuai maka bisa mengakibatkan ikan belut mengalami penurunan setamina, tidak agresif dan loyo, hal ini desebabkan karena belut mengalami kesulitan dalam bernapas jika air terlalu tinggi karena bukaan insang ikan belut lebih kecil dan sempit.

Menurut pengalaman dari para pembudidaya ikan belut, tidak ada batasan kestandaran dari pengolahan media hidup untuk ikan belut. Namun faktor keberhasilan didukung dengan media hidup ikan belut yang baik.

Belut bisa dibesarkan dibanyak media, misalnya media yang paten bisa menggunakan kolam tanah ataupun beton, sedangkan untuk media yang praktis bisa menggunakan kolam terpal, fibber, drum, dan lain sebagainya. Bagi sahabat yang tinggal didaerah perkotaan dengan keterbatasan lahan, maka sahabat bisa menggunakan kolam drum sebagai media hidup ikan belut.

Jika sahabat menggunakan ikan kolam beton, maka langkah pertama dan utama adalah merendam kolam beton tersebut dengan air bersih selama 1-10 hari dengan menambahkan daun papaya ataupun pelepah pisang. Lakukan juga pencucian minimal 2 kali sebelum kolam dugunakan sebagai media budidaya lele, hal ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan kimia dan bau yang terkandung didalam semen. Kolam beton dikatakan lolos dan siap digunakan jika kolam sudah tidak berbau lagi.

MEDIA HIDUP BELUT

belut identic dengang lumput, tapi lumpur yang dibutuhkan ikan belut bukan lumpur yang banyak menganndung bahan berbahaya seperti Ammonia, Nitrit, Nitrat, dan lain sebagainya, namun lumpur yang dimaksud adalah lumpur yang kaya akan mikroorganisme, plankton dan makanan alami lainnya yang bermanfaat bagi ikan belut.

Berdasarkan pengalaman, bahan yang berperan baik untuk membentuk lumpur berbasis pakan alami adalah pupuk kompos, sekam, jerami padi, pelepah pisang, dedek/bekatul, dan lain sebagainya. Proses pencampuranya adalah sebgai berikut:

1. masukan jerami padi yang telah dicacah pada dasar kolam dengan ketinggian 20 cm secara merata sebagai lapisan pertama. Pastikan jerami tersebut tersusun merata.

2. sebagai lapisan kedua tambahkan cacahan pelepah pisang atau sampah sayuran pasar dengan ketinggian 6 cm diatas jerami padi kemudian ratakan.

3. lapisan ketiga merupakan lapisan pemicu tumbuh kembangnya biota organic. Masukan pupuk kompos atau pupuk kandang yang sudah dihaluskan atau disaring dengan ketinggian 20-30 cm secara merata, tambahkan pula dedek atau bekatul secukupnya diatas pupuk sebagai pemicu perkembangan biota.

4. tambahkan bahan biotik decomposer sebagai pengurai bahan-bahan lapisan supaya mengandung banyak biota sumber pakan alami bagi ikan belut, misalnya larutan EM4.
5. lapisan ke empat adalah lumpur, timbun lapisan ketiga dengan menggunakan tanah, lumpur baik sawah maupun rawa dengan ketinggian 10-20 cm secara merata. Biarkan selama 10-15 hari supaya bahan-bahan tersebut ter permentasi secara maksimal.

6. isi dengan air sampai ketinggian media tumbuh, namun jangan digenangi terlebih dahulu. Jika memungkinkan buat settingan seperti air yang mengaliri sawah, yang dimana air lumpur tetap mengendap dan air tetap berjalan selama 4-5 hari. Setelahnya, isi kolam media hidup menggunakan air bersih dengan ketinggian mencapai 4-7 cm. jika memungkinkan tanami kolam dengan tumbuhan air seperti genjer dan enceng gondok dengan konsentrasi maksimal ' dari luas kolam.

Setelah prodes diatas selesai dan didapat hasil media hidup belut berupa lumpur dengan ketinggian mencapai 60-70 cm, maka langkah selanjutnya penebaran bibit belut.

PEMILIHAN BIBIT BELUT


Bibit belut yang unggul adalah bibit yang memiliki keseragaman dalam pertumbuhannya, sangat agresif atau aktif, bebas dari penyakit, tidak cacat, dan tidak loyo. Bbibit belut bisa diperoleh dari tangkapan alam maupun tempat pembibitan, keduanya memiliki keunggulan dan kelebihan. Jika ikan belut hasil tangkapan alam rasanya lebih gurih namun tidak seragam dalam segi ukurannya, sedangkan ikan hasil pembenihan ukurannya lebih seragam namun rasanya kalah gurih dengan ikan belut hasil alam.

Bibit belut yang pada umumnya ditebar dengan ukuran 10-20 cm, membutuhkan waktu pemeliharaan 3-4 bulan, hingga siap dikonsumsi, meski tidak ada standarisasi ukuran belut dipasaran namun jika dijual terlalu dini menjadi kurang efektif. Jika ikan belut diproduksi untuk kebutuhan ekspor, maka pemeliharaannya akan jauh lebih lama untuk mencapai ukuran kesepakatan.

PEMBERIAN PAKAN

Belut merupakan hewan nocturnal atau aktif dimalam hari. Ikan ini juga termasuk hewan karnivora, pemberian pakan dengan konsentrasi hewani berprotein tinggi akan memicu pertumbuhan yang cepat. Melihat dari sifat dan kebiasaan belut yang aktif dimalam hari, maka pemberian pakan akan lebih dikonsentrasikan pada malam hari kecuali pada media kolam yang tertutup atau ternaungi.
Belut adalah termasuk ikan yang rakus, makanan kesukaannya berupa biota hidup dan konsentrasi pemberian pakan 5-15% dari berat badannya dalam satu hari.

Pada umumnya ikan belut yang belum mencapai ukuran pembesaran atau masih larva mengkonsumsi sejenis biota iar seperti Zooplankton. Pakan yang bisa diberikan pada belut bisa berupa pakan hidup ataupun pakan mati. Pakan hidup seperti katak, , belatung, serangga, dan jenis lainnya, frekuensi pemberian pakan bisa dilakukan 3 hari sekali . Sedangkan untuk pakan mati bisa diberikan berupa pellet, cacahan bangkai ayam, cacahan bekicot, cacahan keong, ikan runcah, dan sebagainya. Frekuensi pemberian pakan bisa dilakukan 2-3 kali dalam sehari.

Pemberian pakan mati harus disertai dengan penanganan yang baik, pakan-pakan mati tersebut harus melewati proses perebusan untuk menghilangkan kandungan racun yang ada pada pakan.

PEMANENAN


Ada 2 segmen pemanenan, segmen pertama adalah pemanenan total. Pemanenan total dilakukan dengan mennjual secara keseluruhan belut yang ada dimedia hidup, atau istilah lain adalah pemborongan. Sedangkan segmen kedua adalah pemanenan sebagian, pemanenan ini berbeda dengan pemanenan total/borongan. Pemanenan ini hanya memanen ikan belut yang masuk dalam ukuran pasar sedangkan ikan belut yang belum memenuhi persyaratan pasar di masukan kedalam kolam untuk dipelihara kembali.

Pemanenan disegmen kedua ini biasanya dilakukan untuk kebutuhan ekspor, karena kebanyakan pasar ekspor membutuhkan ikan belut yang berukuran minimal 200-300 kg/ekor.

PASCA PANEN

Budidaya ikan belut merupakan bisnis yang begitu menjanjikan, hal ini harus diimbangi dengan penanganan pasca panen yang serius, sehingga bisnis budidaya yang sahabat jalankan tetap bisa memberikan kualitas dan kuantitas yang baik dan kontinyu yang akan memperluas jaringan pemasaran belut diseluruh penjuru dunia.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel